Pagi yang seharusnya riuh oleh kicau enggang, pekik owa-owa, dan derik serangga, kini berganti dengan hening yang ganjil. Di banyak sudut hutan Kalimantan, langit tak lagi biru bening, melainkan kelabu pekat oleh asap. Aroma hangus menggantung di udara, menembus dedaunan, menyusup ke sarang-sarang, dan perlahan membungkam simfoni rimba yang selama ini menjadi denyut kehidupan pulau terbesar ketiga di dunia ini.
Ketika Langit Berubah Warna
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan fenomena baru di Kalimantan. Musim kemarau yang panjang, ditambah praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar, kerap menjadi kombinasi yang mematikan. Namun yang sering luput dari perhatian adalah bagaimana asap tebal itu tidak hanya mengancam manusia dengan gangguan pernapasan, tetapi juga menggerus kehidupan satwa liar secara diam-diam dan bertahap.
Ketebalan asap mampu menurunkan jarak pandang hingga hanya beberapa meter. Bagi manusia, ini berarti sekolah diliburkan dan penerbangan ditunda. Namun bagi satwa liar, ini berarti dunia yang mereka kenal tiba-tiba berubah menjadi labirin asing yang menyesakkan.
Paru-Paru yang Sama Rentannya
Orangutan, primata ikonik yang hanya bisa ditemukan di Kalimantan dan Sumatra, memiliki sistem pernapasan yang tak jauh berbeda dari manusia. Ketika kabut asap melanda, mereka rentan mengalami gangguan pernapasan, mata perih, hingga penurunan nafsu makan. Bayi orangutan menjadi kelompok paling rentan karena sistem imun mereka belum sepenuhnya berkembang.
Para peneliti primata yang bekerja di kawasan konservasi kerap melaporkan perubahan perilaku orangutan saat kabut asap tebal: mereka menjadi lebih pendiam, mengurangi aktivitas bersuara jarak jauh (long call) yang biasanya digunakan pejantan dominan untuk menandai wilayah, dan cenderung bersembunyi lebih dalam di kerimbunan kanopi. Suara yang biasanya menjadi penanda keberadaan mereka pun perlahan lenyap ditelan asap.
Simfoni yang Terputus
Hutan tropis Kalimantan dikenal sebagai salah satu ekosistem dengan keragaman bunyi tertinggi di dunia sebuah orkestra alami yang melibatkan burung enggang, owa-owa, tonggeret, katak, hingga serangga malam. Fenomena ini disebut para ekolog sebagai soundscape atau lanskap suara hutan, yang sesungguhnya menjadi indikator kesehatan ekosistem.
Ketika asap menyelimuti hutan, lanskap suara ini mengalami gangguan serius. Burung-burung yang biasanya aktif berkicau saat fajar cenderung diam karena kualitas udara yang buruk mengganggu sistem pernapasan mereka yang sangat sensitif burung memiliki kantung udara dan struktur paru-paru yang membuat mereka jauh lebih rentan terhadap partikel asap dibanding mamalia. Banyak spesies burung memilih bermigrasi mencari udara yang lebih bersih, meninggalkan wilayah jelajah mereka.
Serangga malam, yang biasanya menciptakan "musik latar" hutan tropis lewat gesekan sayap dan tubuh, juga mengalami penurunan populasi akibat kabut asap yang mengganggu siklus hidup dan sumber makanan mereka. Ketika populasi serangga menurun, dampaknya merambat ke rantai makanan yang lebih tinggi burung pemakan serangga kehilangan sumber pangan, dan seterusnya.
Rumah yang Hilang Sebelum Api Padam
Tidak semua dampak karhutla bersifat sementara. Kebakaran yang meluas hingga ke kawasan gambut ekosistem yang menyimpan karbon dalam jumlah masif dan menjadi habitat penting bagi banyak spesies endemik dapat menghanguskan habitat secara permanen. Berbeda dengan hutan mineral yang mampu beregenerasi relatif lebih cepat, lahan gambut yang terbakar bisa membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk pulih, jika bisa pulih sama sekali.
Bagi satwa seperti orangutan, bekantan, atau kucing hutan, kehilangan habitat berarti kehilangan wilayah jelajah yang sudah mereka kenal selama bergenerasi. Individu-individu yang selamat dari kobaran api sering kali terpaksa berpindah ke fragmen hutan yang tersisa, memicu persaingan sumber daya yang lebih ketat dan meningkatkan risiko konflik dengan manusia di sekitar area pemukiman atau perkebunan.
Sunyi yang Berbicara
Ironisnya, keheningan yang tercipta akibat kabut asap justru menjadi alarm paling nyaring bagi krisis lingkungan yang sedang berlangsung. Para ilmuwan lingkungan kini mulai memanfaatkan teknologi perekam bioakustik untuk memantau kesehatan hutan justru dengan mendengarkan atau tidak mendengarkan suara-suara satwa. Penurunan drastis intensitas suara alam pada suatu kawasan dapat menjadi indikator dini kerusakan ekosistem, bahkan sebelum kerusakan itu terlihat secara visual.
Sunyi rimba Kalimantan, dengan demikian, bukan sekadar gambaran puitis tentang alam yang murung. Ia adalah pesan mendesak bahwa ekosistem yang menopang kehidupan jutaan spesies termasuk manusia sedang berada dalam titik kritis.
Menjaga agar Rimba Tetap Bersuara
Upaya pencegahan karhutla, mulai dari penegakan hukum terhadap praktik pembakaran lahan, restorasi kawasan gambut, hingga edukasi masyarakat tentang pembukaan lahan tanpa bakar, menjadi kunci agar simfoni hutan Kalimantan tidak semakin sunyi. Konservasi bukan hanya soal menyelamatkan individu satwa yang terdampak, tetapi juga soal menjaga agar rumah mereka tetap layak huni, dan agar suara-suara yang menjadi identitas rimba tropis ini terus bergema untuk generasi mendatang.
Sebab pada akhirnya, hutan yang sehat bukanlah hutan yang sekadar hijau dari udara, melainkan hutan yang masih ramai oleh suara kehidupan di dalamnya.
0 Komentar